i
SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI FINLANDIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
“Perbandingan Pendidikan”
Dosen Pengampu :
Zainur Rofik, M.Pd.I.
Disusun Oleh Kelompok 12 / PAI F :
1. Nihaya Nuraini (201190192)
2. Nur Azizah Lylik (201190209)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
JUNI 2022
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun makalah dengan judul Sistem
Kebijakan Pendidikan di Finlandia. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Zainur Rofik, M.Pd.I. selaku dosen pengampu kami yang telah memberikan
tugas ini kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan
khususnya dalam masalah system kebijakan pendidikan di Finlandia.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun
ini bisa memberikan banyak manfaat serta menambah wawasan. Serta selain itu
kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan yang
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritik
dari para pembaca.
Ponorogo, 04 Juni 2022
Penyusun
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3
A. Sistem Pendidikan di Finlandia ............................................................ 3
B. Kebijakan Pendidikan di Finlandia ...................................................... 5
C. Kurikulum Pendidikan di Finlandia ..................................................... 6
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 11
A. Kesimpulan .......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................12
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap negara memiliki sistem dan strategi tertentu dan berbeda dalam dunia
pendidikannya. Setiap guru di setiap negara memiliki metode pendidikan yang berbeda
yang mereka gunakan untuk sistem pembelajarannya, sistem tersebut berdasarkan pada
paham-paham, budaya dan sistem demografi negara sendiri. Sistem di butuhkan dalam
semua sektor di sebuah negara, termasuk sektor Pendidikan. Pendidikan adalah suatu
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam
hidupnya. Apabila suatu negara atau bangsa memiliki kemajuan dalam pendidikannya,
bisa di pastikan baik secara social budaya, politik dan sebagainya. Negara maju dan
modern sekalipun tidak akan pernah lepas dari pengaruh pengaruh Pendidikan, karena
Pendidikan merupakan pusat perkembangan berbagai aspek dalam suatu negara.
Kesetaraan pendidikan dan budaya merupakan target utama yang sangat penting dan
ingin diraih oleh pemerintah Finlandia, hal tersebut tertuang dalam strategi Kementrian
Pendidikan Finlandia pada tahun 2015.
Mengungkap bahwa Faktor yang menjadi kunci utama dalam pengembangan
dan pembangunan ekonomi juga peradaban modern di Finlandia adalah pendidikan, hal
tersebut secara tegas diucapkan secara tegas dalam visinya oleh kementerian
pendidikan finlandia. Negara Finlandia memiliki Prinsip bahwa kompetisi atau
persaingan tidak ada di negara ini, pasalnya publik Finlandia berpegang teguh pada
keyakinan prinsip keadilan (equity). Warga negara Finlandia menjunjung tinggi prinsip
kesetaraan (equality) dan keadilan (equity) serta bertolak belakang atau tidak
menyetujui pengelolaan sekolah berorientasi pasar atau kompetisi (Putra, 2015). Akses
terhadap pendidikan yang setara dan berkolaborasi menjadi prinsip bagi pembuatan
regulasi di bidang pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana system pendidikan di Finladia?
2. Bagaimana kebijakan pendidikan di Finlandia?
3. Bagaimana kurikulum pendidikan di Finlandia?
2
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui system pendidikan di Finladia.
2. Untuk mengetahui kebijakan pendidikan di Finladia.
3. Untuk mengetahui kurikulum pendidikan di Finladia .
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Pendidikan Di Finlandia
Finlandia atau Republik Finlandia adalah sebuah negara Nordik yang
terletak di Fennoscandian wilayah utara Eropa. Di sebelah barat berbatasan dengan
Swedia, di sebelah timur berbatasan dengan Rusia, dan di sebelah utara berbatasan
dengan Norwegia. Finlandia terkenal dengan pendidikan terbaik di dunia. Ini
terbukti dari peringkat PISA (Program for International Student Assesment) pada
tahun 2003 siswa Finlandia menduduki peringkat pertama dan meraih skor tertinggi
di dunia secara konsisten. Tes yang diadakan oleh PISA menguji siswa yang berusia
15 tahunan di sekiatr 40 negara industri seluruh dunia, pengukuran tes dalam PISA
yaitu keaksaraan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Salah satu
faktor yang mendorong keberhasilan Finlandia bertransformasi menjadi negara
industri maju dan modern adalah tingginya kualitas dan kompetensi sumber daya
manusia (SDM) yang dimilikinya. Tingginya kualitas dan kompetensi SDM
Finlandia merupakan hasil dari perjalanan panjang komitmen kuat pemerintah dan
rakyat Finlandia dalam membangun dan mengembangkan system pendidikan
nasionalnya. Pemerintah dan rakyat Finlandia menyadari bahwa komitmen kuat
untuk membangun dan mengembangkan system pendidikan nasional merupakan
kunci penentu keberhasilan negaranya untuk tetap eksis mempertahankan
keberlangsungan hidupnya sebagai negara yang berpenduduk kecil, sumber daya
alam yang sangat terbatas dan hidup di tengah kondisi alam yang ekstrim dan
kurang bersahabat.
Pendidikan di Finlandia tidak memotivasi siswa untuk menjadi siapa yang
terpandai di sekolahnya (no competition), namun lebih menekankan bagaimana
membentuk “learning community” yaitu menggabungkan guru sebagai pendidik,
siswa sebagai anak didik, dan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan, sehingga
kolaborasi ini yang membuat pendidikan lebih unggul karena semua merasa
bertanggung jawab akan proses pendidikan. Pendidikan di Finlandia juga tidak
membebankan siswa melakukan banyak PR atau tugas, jika dibandingkan dengan
Amerika yang membebankan siswa melakukan “homework” selama 2-3 jam/hari
maka Finlandia hanya memberlakukan maksimum 30 menit/hari.Sistem pendidikan
4
Finlandia sangat menitikberatkan bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan
belajar. Finlandia optimis bahwa hasil terbaik hanya dapat dicapai bila lebih
memperhatikan siswa yang kurang daripada terlalu menekankan target kepada
siswa yang unggul. Dengan demikian, tidak ada anak-anak yang merasa tertinggal.
Sistem pendidikan di Finlandia memiliki 3 tingkatan, yakni:
1. Pendidikan wajib dasar nasional 9 tahun (terdiri dari 6 tahun pendidikan
dasar dan 3 tahun pendidikan menengah pertama).
Sistem pendidikan Finlandia tidak lagi mengenal sistem pendidikan
menengah pertama, atau setara dengan pendidikan di tingkat Sekolah Menegah
Pertama (SMP) di Indonesia. Orang tua atau wali murid dalam usia wajib belajar
wajib menyekolahkan anaknya untuk mengikuti program wajib belajar. Setelah
anak menyelesaikan seluruh silabus pendidikan dasar, maka anak tersebut akan
menerima sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa anak tersebut telah
menyelesaikan pendidikan wajib dasar 9 tahun dan berhak untuk melanjutkan
ke jenjang pendidikan menegah atas (general upper secondary school) atau
pendidikan kejuruan (vocational education and training).Dalam jenjang
pendidikan dasar 9 tahun, tidak terdapat ujian nasional untuk kenaikan tingkat
kelas, maupun ujian nasional untuk kelulusan pendidikan wajib dasar 9 tahun.
Anak hanya akan memperoleh penilaian yang diberikan oleh guru di tiap akhir
tahun ajaran dan di akhir jenjang pendidikan dasar.
2. Pendidikan menengah atas dan/atau sekolah kejuruan (vocational training)
Jika dilihat dari segi jenjang, di Finlandia pendidikan kejuruan sama dengan
di Indonesia yaitu dimulai di level pendidikan menengah. Setelah sembilan
tahun sekolah umum yang komprehensif (siswa berumur 16 tahun), siswa dapat
memilih untuk melanjutkan ke salahsatu sekolah menengah atas, suatu lembaga
pendidikan yang mempersiapkan siswa untuk masuk pendidikan tinggi, atau
bisa pula masuk ke sekolah menengah kejuruan/vokasional. Kedua bentuk
pendidikan menengah ini berdurasi tiga tahun, dan memberikan kualifikasi
formal bagi lulusannya. Lulusan pendidikan umum bisa melanjutkan ke
universitas umum dan politeknik, namun lulusan pendidikan kejuruan hanya
bisa masuk ke politeknik atau langsung bekerja. Pendidikan di sekolah
menengah kejuruan juga gratis seperti di sekolah umum. Mahasiswa dari
5
keluarga berpenghasilan rendah bisa mendapatkan beasiswa dari negara untuk
jenjang yang lebih tinggi. Kurikulum ditekankan pada materi kejuruan dan
selalu disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Sekolah-sekolah kejuruan
sebagian besar dikelola oleh pemerintah kota.
1
3. Pendidikan tinggi (higher education).
Sistem pendidikan tinggi (dikti) Finlandia terdiri dari 2 sektor, yakni
politeknik, dan universitas. Misi politeknik adalah untuk mencetak dan melatih
para ahli untuk mendukung dunia kerja dan melaksanakan riset
dan pembangunan yang mampu menyokong pendidikan serta pembangunan
daerah. Universitas melaksanakan riset ilmiah dan menyediakan instruksi
dan pendidikan paska sarjana. Tujuan inti kebijakan dikti Finlandia adalah
untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat dan mencetak para ahli
terdidik guna memenuhi kebutuhan dunia kerja, khususnya di bidang bisnis dan
industri. Bahkan Finlandia tercatat sebagai Negara dengan waktu belajar
terseingkat di dunia dibanding negara maju lainnya yaitu 4-5 jam per hari. Selain
itu , guru yang mendampingi dalam 1 kelas ada 3 orang 2 guru pengampuh mata
pelajaran dan 1 orang guru lagi untuk mendampingi anak secara individual
apabila mengalami kendala saat proses belajar berlangsung.
B. Kebijakan Pendidikan Di Finlandia
Finlandia merupakan negara yang memiliki tingkat kualitas pendidikan
terbaik di dunia. Finlandia merupakan sebuah negara yang hanya memiliki
penduduk sekitar 5 juta jiwa. Salah satu sebab mengapa Finlandia mempunyai
pendidikan terbaik adalah budaya baca yang ditanamkan sejak anak-anak.
Berikut beberapa kebijakan negara dengan pendidikan terbaik di dunia.
1. Seleksi Guru Yang Ketat
Di negara Finlandia guru adalah profesi terhormat dan membanggakan.
Seleksi untuk mengajar di suatu sekolah sangat ketat. Dengan seleksi guru yang
ketat, terjadilah guru-guru berkualitas. Dengan guru yang berkualitas maka akan
tercipta pulalah pendidikan yang berkualitas. Kredibilitas dan mutu tenaga
1
Ridwan M Daud, Sistem Pendidikan di Finlandia Suatu Alternatif Sistem Pendidikan Aceh, Jakarta : Pustaka Al-Husna baru, Cet. VI. 2008 , 28-31.
6
pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab
membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka.
Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian
nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang
yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai
dengan siswa-siswa mereka.
2. Kurikulum yang Konsisten
Kurikulum di negara pendidikan terbaik di dunia ini telah semenjak
usang mempersiapkan kurikulum mereka. Pendidikan di Finlandia jarang
mengganti kurikulum pendidikannya. Mereka terkesan tak mau coba-coba
terhadap kurikulum yang baru. Dengan demikian tak akan terjadi kebingungan
antara guru dan murid, dan fokus pada tujuan pendidikan tercapai.
3. Tak Ada Ranking
Tak ada ranking menciptakan mental siswa Finlandia kuat. Seolah-olah
tak ada diskriminasi, dan di Finlandia tak ada kelas unggulan. Penilaian
didasarkan pada bagaimana mereka mengerjakan tugas, dan bukan pada benar
atau salahnya jawaban.
4. Pekerjaan Rumah (PR) diberikan sesedikit mungkin. Maksimum hanya
menghabiskan waktu setengah jam untuk belajar di rumah.
5. Di Finlandia guru bebas memilih Rancangan pembelajaran (RPP) dan buku
pelajaran yang sesuai dengan pertimbangannya.
6. Dalam proses pembelajaran hampir semua guru menciptakan metode mengajar
yang menyenangkan (learning is fun) motivasi intrinsik adalah kata kunci
keberhasilan siswa.
7. Dalam pengaturan kelas di Finlandia tidak ada pengkastaan kelas (kelas khusus
atau plus dan kelas biasa, kelas reguler dan non-reguler atau sekolah bilingual).
2
C. Kurikulum Pendidikan di Finlandia
Kurikulum pendidikan Finlandia tidak sepadat kurikulum yang diberlakukan di
negara-negara lainnya, khususnya negara Asia. Anak-anak di Finlandia
2
Lu’luil Maknun, Telaah dan Kurikulum Sistem Pendidikan di Finlandia, Jurnal Pendidikan , VOL. 1, NO. 1, 2018,
64-66.
7
menghabiskan waktu lebih sedikit di sekolah dibandingkan anak-anak di negara
lain. Jam istirahat sekolah juga lebih panjang, yakni 75 menit, dibandingkan
dengan negara seperti Amerika yang membatasi waktu 30 menit istirahat. Mereka
juga diberikan tugas yang lebih sedikit. Selain itu, anak-anak Finlandia memulai
pendidikan akademik di usia 7 tahun, berbeda dengan kebanyakan negara yang
memulai pendidikan akademik anak-anak di usia yang lebih muda. Bagaimana
Finlandia mampu menuai sukses di dunia pendidikan dengan kurikulumnya yang
terkesan “malas” ?
Prinsip kurikulum pendidikan Finlandia adalah “Less is More”. Sekolah
berfungsi sebagai tempat belajar dan eksplorasi potensi dimana sekolah menjadi
lingkungan yang relaks dan tidak terlalu mengikat siswanya dengan jam belajar
dan kapasitas tugas yang tidak terlalu membebani siswa. Di samping itu, tidak ada
sistem peringkat untuk prestasi akademik dan ujian standarisasi dari tingkat
sekolah dasar sampai dengan menengah pertama. Para siswa juga baru diuji dengan
ujian standarisasi pada sekolah menengah tingkat akhir. Ujian ini pun bersifat
optional, hanya bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Bagi yang tidak mengikuti ujian, tetap bias melanjutkan ke institusi pendidikan
yang berorientasi ke praktek dunia kerja.
Salah satu prinsip kurikulum di Finlandia adalah Non-discrimination and equal
treatment yang berarti tidak ada diskriminasi dan mendapat perlakuan yang
sama. Di Finlandia semua anak punya hak sama dalam pendidikan, tidak dibedakan
antara si kaya dan si miskin dan semua sekolah tidak dibedakan baik itu sekolah
favorit atau tidak.
Siswa-siswa di Finlandia dibimbing untuk memiliki hak yang sama ketika belajar,
maka tidak heran jika di dalam kelas mereka memiliki minimal dua guru untuk
mengajar, 1 bertindak sebagai guru utama dan 1-nya sebagai asisten.
Di sisi lain berdasarkan hak dasar warga Finlandia, prinsip Receive
understanding and have their say in accordance with their age and maturity yaitu
menerima pemahaman dan pendapat sesuai umur dan kedewasaan. jadi mereka
memiliki hak mendapatkan ilmu sesuai umur mereka tanpa diskriminasi. Mereka
juga mendapatakan dukungan spesial jika dibutuhkan seperti anak cacat dan anak-anak yang membutuhkan waktu ektra akan memiliki kelas tambahan untuk
8
diajarkan secara khusus agar mereka mendapatkan hal yang sama seperti anak
lainnya.
Dari segi mata pelajaran di Finlandia memiliki 6 mata pelajaran inti yang
semuanya terbungkus dengan kata orientation. Kenapa ada kata orientation?
Karena kurikulum di Finlandia memiliki konsep gagasan bahwa 6 mata pelajaran
ini bukan mengharuskan siswa belajar isi dari seluruh pelajaran ini namun
mengajak anak didik untuk mulai memperoleh kemampuan menjelajah dan
memahami fenomena-fenomena alam yang ada disekitar mereka. Maka jika anda
melihat ada tiga kata yang dipakai disini yaitu examine, understand, & experience.
Jadi siswa melatih kemudian memahami dan mencoba. Jadi pada hakikatnya
siswa di Finlandia tidak belajar isi dari buku-buku tetapi berinteraksi dengan ilmu-ilmu tersebut. Tentunya dengan fasilitas yang lengkap di setiap sekolah, baik desa
maupun kota. Hal menarik lainnya adalah bagaimana seorang guru mengajar di
Finlandia tidak sebatas s mereka tentang alam demi mendapatkan pengetahuan dari
pengalaman secara langsung.
Mata pelajaran inti dan distribusi mata pelajaran dalam silabus pendidikan
dasar Finlandia ditetapkan melalui regulasi. Mata pelajaran inti yang ditetapkan di
sekolah-sekolah dasar adalah bahasa ibu dan sastra; bahasa resmi lainnya satu
bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, dan Italia; pendidikan lingkungan;
pendidikan kesehatan; pendidikan agama atau etika; ilmu sejarah; ilmu sosial;
matematika; fisika; kimia, biologi, geografi, psikologi, musik, seni dan kerajinan,
serta ilmu ekonomi rumah tangga. Sementara di Indonesia kurikulum pendidikan
dasar secara umum juga memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan,
bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan
budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan atau kejuruan, dan muatan
lokal. Perbedaan yang sangat terlihat dari kedua kurikulum tersebut adalah bahwa
Finlandia lebih banyak menekankan penguasaan bahasa dan sastra termasuk
bahasa asing pada peserta didiknya. Selain fungsi bahasa sebagai alat komunikasi,
tentu saja penguasaan bahasa dan sastra menjadi sangat penting kedudukannya
9
sebagaimana keberadaan bahasa dalam struktur ilmu sebagai basis yang harus
dikuasai peserta didik selain matematika tentunya.
3
The National Board of Education adalah dewan yang menerbitkan kurikulum
inti secara nasional. Mereka menyusun kurikulum dengan tujuan dan materi utama
kurikulum pendidikan dasar yang berfungsi sebagai guideline bagi sekolah.
Namun, pemerintah lokal dan sekolah dapat melakukan penyesuaian terhadap mata
pelajaran yang akan diajarkan, berbasis pada kebutuhan peserta didik. Bahkan
orang tua peserta didik juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam
menyusun kurikulum sekolah dan tujuan pendidikannya. Indonesia selintas
memang menerapkan sistem yang hampir serupa. Acuan kurikulum pendidikan
nasional dibuat oleh Depdiknas dan pengembanganya diserahkan pada masing-masing sekolah sebagaimana KTSP di implementasikan. Namun pada prakteknya,
tidak semua pendidik memiliki kompetensi untuk mengembangkan KTSP sebab
sudah terbiasa dengan pola kurikulum yang sentralistis.
Dalam proses pembelajaran, peserta didik Finlandia tidak dipaksa oleh
pendidik untuk mencapai target tertentu. Pendidik hanya memberi tahu mereka
tentang nilai-nilai yang dapat dicapai oleh peserta didik bila mereka memenuhi
taraf tertentu. Target pembelajaran dibuat sendiri oleh peserta didik dengan
bantuan orang tua peserta didik. Sistem pendidikan Finlandia memahami belajar
sebagai proses bertahap yang tidak bisa dipaksakan apalagi diberi target waktu
pencapaiannya. Sehingga Finlandia yang tidak mengenal adanya sistem tinggal
kelas ini memberikan kesempatan pada peserta didik usia sekolah dasar (kelas 1-9) untuk berada di sekolah hingga 10 tahun lamanya dan bagi peserta didik usia
sekolah menengah (kelas 10-12) hingga 4 tahun. meranking peserta didiknya dalam
rapor penilaian akhir semester atau akhir tahun. Sebab peringkat atau nilai
dianggap tidak penting oleh pendidik, yang penting adalah bagaimana peserta didik
dapat menguasai materi pelajaran.
Sebagai prinsip pendidikan humanis, kurikulum Finlandia mengedepankan
integrasi antara teori dan praktik pendidikan, terutama dalam pelajaran sains
sehingga peserta didik dapat belajar banyak mengenai problem solving. Tidak
3
Lu’luil Maknun, Ahmad Royani, Telaah Kurikulum Dan Sistem Pembelajaran Sekolah Dasar Di Finlandia Serta
Persamaan Dan Perbedaannya Dengan Kurikulum 2013 Di Indonesia, 57-59.
10
seperti peserta didik di Indonesia yang rata-rata lebih banyakdijejali dengan
hapalan teori yang sangat minim dengan praktek. Pendidik di Finlandia tidak
menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah sebagaimana halnya
yang masih terjadi di Indonesia. Peserta didik mencari informasi sendiri yang
mereka butuhkan. Pendidik menjadi fasilitator, tempat mereka bertanya bila
mereka menemui kesulitan. Di Indonesia, dialog interaktif antara pendidik dan
peserta didik rata-rata hanya terjadi bila pendidik memberikan kesempatan pada
peserta didik, itupun di akhir ceramahnya saat jam pelajaran sudah nyaris berakhir.
4
4
Ibid, 71.
11
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem pendidikan di Finlandia memiliki 3 tingkatan, yakni: Pendidikan
wajib dasar nasional 9 tahun (terdiri dari 6 tahun pendidikan dasar dan 3 tahun
pendidikan menengah pertama), Pendidikan menengah atas dan/atau sekolah
kejuruan (vocational training), Pendidikan tinggi (higher education).
Berikut beberapa kebijakan negara dengan pendidikan terbaik di dunia:
Seleksi Guru Yang Ketat, Kurikulum yang Konsisten, Tidak Ada Rangking,
Pekerjaan Rumah (PR) diberikan sesedikit mungkin, Maksimum hanya
menghabiskan waktu setengah jam untuk belajar di rumah, Di Finlandia guru
bebas memilih Rancangan pembelajaran (RPP) dan buku pelajaran yang sesuai
dengan pertimbangannya, Dalam proses pembelajaran hampir semua guru
menciptakan metode mengajar yang menyenangkan (learning is fun) motivasi
intrinsik adalah kata kunci keberhasilan siswa, Dalam pengaturan kelas di
Finlandia tidak ada pengkastaan kelas (kelas khusus atau plus dan kelas biasa,
kelas reguler dan non-reguler atau sekolah bilingual).
Kurikulum pendidikan Finlandia tidak sepadat kurikulum yang
diberlakukan di negara-negara lainnya, khususnya negara Asia. Anak-anak di
Finlandia menghabiskan waktu lebih sedikit di sekolah dibandingkan anak-anak di negara lain. Jam istirahat sekolah juga lebih panjang, yakni 75 menit,
dibandingkan dengan negara seperti Amerika yang membatasi waktu 30 menit
istirahat. Mereka juga diberikan tugas yang lebih sedikit. Selain itu, anak-anak
Finlandia memulai pendidikan akademik di usia 7 tahun, berbeda dengan
kebanyakan negara yang memulai pendidikan akademik anak-anak di usia yang
lebih muda.
12
DAFTAR PUSTAKA
Lu’luil Maknun. 2018, Telaah dan Kurikulum Sistem Pendidikan di Finlandia, Jurnal
Pendidikan VOL. 1, NO. 1.
Lu’luil Maknun, Ahmad Royani. Telaah Kurikulum Dan Sistem Pembelajaran Sekolah Dasar
Di Finlandia Serta Persamaan Dan Perbedaannya Dengan Kurikulum 2013 Di
Indonesia.
Ridwan M Daud. 2008 , Sistem Pendidikan di Finlandia Suatu Alternatif Sistem Pendidikan
Aceh. Jakarta : Pustaka Al-Husna baru, Cet. VI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar